Selasa, 02 Oktober 2012

Senja

Menutup senja ini dengan sebuah khayalan ...
Khayalan akan rindunya makna sebuah kasih dan sayang ...
Sepotong kenangan kini enggan pergi dari pikiran ...
Aku takut pedih kini mulai menghujam ...
Aku takut resah menghantui setiap detik hari-hariku ...
Aku rindu akan setiap nada-nada indahmu ...
Aku ingin duduk manis melihat tawa yang begitu tulus ...
Senja, aku tak kuasa menahan derasnya cerita ini ...
Aku tak mampu melangkah begitu cepat ...
Aku tak berdaya menerima kenyataan yang ada ...
Senja, kini aku berharap tutuplah kisah ini dengan selimut hangatmu manjakannya ...

Pecundang

Ingin sekali aku sapa kembali setiap tulisan kilau itu ...
Ingin sekali aku tegur ketika benalu itu datang ...
Dan ingin sekali aku tebar sinarnya mentari pagi ...
Aku senang di kala terang itu datang ...
Aku girang seakan manis telah memberiku peluang ...
Peluang yang menjadikan pedih larut dalam tangisan ...
Tangisan yang menyambut datangnya sebuah kebahagian ...
Mungkin, periang adalah sosok akan diriku di saat itu ...
Mungkin, pandai adalah gambaran akan tingkahku ...
Mungkin, ulet adalah gambaran akan ambisiku ...
Tapi, pecundanglah yang nyatanya rekat dalam jiwaku ...

Sesal

Sunyi kini menghiasi hari-hariku ...
Jauh sudah kini jarak antara diri ini dengan dirimu ...
Tenggelam ragaku ke dasar dusta ini ...
Iba aku melihat diriku sendiri ...
Pilu akan semua realita yang terjadi ...
Menahan pedih yang tiap saat datang menghantui ...
Serasa hambar setiap rasa yang tercicipi ...
Dan seakan merugi telah melepas sang merpati ...

Minggu, 02 September 2012

Keji

Kini tak kuasa aku melihat rona wajahmu ...
Malu aku akan setiap langkah kecilku saat ini ...
Jalanku tak kunjung henti menyakiti hati ...
Ragaku mati akan yang namanya deskripsi ...
Entah apa yang ada di benakku saat ini ...
Aku sadar telah mengotori putihmu kini ...
Hitamku banyak mengalir tiada henti ...
Kelabuku menghiasi seisi relung hati ini ...
Mendayu aku dalam derasnya luka ini ...
Meninggalkan noda yang kini kian bersemi ...
Seakan-akan pudar tak mampu nampak dalam goresan keji ini ...

Kamu

Kamu,
Putih itulah gambaran akan hatimu ...
Tangguh adalah gambaran akan dirimu ...
Anggun sikapmu mampu mendamaikan suasana ...
Lara pun seakan sirna saat kau keluarkan mutiaramu ...
Bahkan, gelap pun tak mampu untuk menakutimu ...
Panutan adalah sosok yang pantas untuk menggambarkan siapa dirimu ...
Bahagia adalah sosok yang sempurna untuk pemilikmu ...

Galauanku

Semu, inilah hal yang kini ada di jiwa ini ...
Ragu, terus datang menghampiri tak kunjung henti ...
Janji, begitu manis terucap dari mulut ini ...
Hindar, seakan menjadi bagian dari diri ini ...
Gundah, melekat tak kunjung layu dari hati ini ...
Takut, selalu mengiringi setiap langkah kaki ini ...
Malu, menjadi pelengkap sesaknya nafas ini ...
Dan sesal, kini menjadi akhir dari kisah ini ...

Gelapku

Aku berjalan tapi tak tahu tujuanku ...
Aku seakan terpenjara di bawah hujan yang deras mengguyur sekujur tubuhku ...
Aku menanti mentari terang dari sudut gelap tempatku berdiri ...
Aku menoleh ke kanan dan kiri, yang ada hanya hitam ...
Aku mencoba membuka lebar mataku demi setitik kecerahan ...
Namun, aku tak kunjung menemukan dimana cerah itu ...
Aku hanya bisa melihat ke belakang semua ekspresiku ...
Ekspresi yang membuatku menjadi gelap gulita ...
Seakan-akan aku terbawa ke dalam lautan hitam dan tenggelam di dasarnya ...
Kini, hanya sesosok cerah bola matamu yang ku tunggu hadir kembali menyinari daratanku ...