Kini tak kuasa aku melihat rona wajahmu ...
Malu aku akan setiap langkah kecilku saat ini ...
Jalanku tak kunjung henti menyakiti hati ...
Ragaku mati akan yang namanya deskripsi ...
Entah apa yang ada di benakku saat ini ...
Aku sadar telah mengotori putihmu kini ...
Hitamku banyak mengalir tiada henti ...
Kelabuku menghiasi seisi relung hati ini ...
Mendayu aku dalam derasnya luka ini ...
Meninggalkan noda yang kini kian bersemi ...
Seakan-akan pudar tak mampu nampak dalam goresan keji ini ...
Meraih mimpi itu (?). Terkadang impian dapat menjadikan hidup ini berguna. Hidup ini layak untuk kita sebut anugerah. Di sini saya coba bungkus cerita lewat indahnya kata-kata. Belajar mencari makna dan indahnya sebuah sandiwara. It's me, Rifaldi Adi Saputra :) "LEARN FROM MISTAKES"
Minggu, 02 September 2012
Kamu
Kamu,
Putih itulah gambaran akan hatimu ...
Tangguh adalah gambaran akan dirimu ...
Anggun sikapmu mampu mendamaikan suasana ...
Lara pun seakan sirna saat kau keluarkan mutiaramu ...
Bahkan, gelap pun tak mampu untuk menakutimu ...
Panutan adalah sosok yang pantas untuk menggambarkan siapa dirimu ...
Bahagia adalah sosok yang sempurna untuk pemilikmu ...
Putih itulah gambaran akan hatimu ...
Tangguh adalah gambaran akan dirimu ...
Anggun sikapmu mampu mendamaikan suasana ...
Lara pun seakan sirna saat kau keluarkan mutiaramu ...
Bahkan, gelap pun tak mampu untuk menakutimu ...
Panutan adalah sosok yang pantas untuk menggambarkan siapa dirimu ...
Bahagia adalah sosok yang sempurna untuk pemilikmu ...
Galauanku
Semu, inilah hal yang kini ada di jiwa ini ...
Ragu, terus datang menghampiri tak kunjung henti ...
Janji, begitu manis terucap dari mulut ini ...
Hindar, seakan menjadi bagian dari diri ini ...
Gundah, melekat tak kunjung layu dari hati ini ...
Takut, selalu mengiringi setiap langkah kaki ini ...
Malu, menjadi pelengkap sesaknya nafas ini ...
Dan sesal, kini menjadi akhir dari kisah ini ...
Ragu, terus datang menghampiri tak kunjung henti ...
Janji, begitu manis terucap dari mulut ini ...
Hindar, seakan menjadi bagian dari diri ini ...
Gundah, melekat tak kunjung layu dari hati ini ...
Takut, selalu mengiringi setiap langkah kaki ini ...
Malu, menjadi pelengkap sesaknya nafas ini ...
Dan sesal, kini menjadi akhir dari kisah ini ...
Gelapku
Aku berjalan tapi tak tahu tujuanku ...
Aku seakan terpenjara di bawah hujan yang deras mengguyur sekujur tubuhku ...
Aku menanti mentari terang dari sudut gelap tempatku berdiri ...
Aku menoleh ke kanan dan kiri, yang ada hanya hitam ...
Aku mencoba membuka lebar mataku demi setitik kecerahan ...
Namun, aku tak kunjung menemukan dimana cerah itu ...
Aku hanya bisa melihat ke belakang semua ekspresiku ...
Ekspresi yang membuatku menjadi gelap gulita ...
Seakan-akan aku terbawa ke dalam lautan hitam dan tenggelam di dasarnya ...
Kini, hanya sesosok cerah bola matamu yang ku tunggu hadir kembali menyinari daratanku ...
Aku seakan terpenjara di bawah hujan yang deras mengguyur sekujur tubuhku ...
Aku menanti mentari terang dari sudut gelap tempatku berdiri ...
Aku menoleh ke kanan dan kiri, yang ada hanya hitam ...
Aku mencoba membuka lebar mataku demi setitik kecerahan ...
Namun, aku tak kunjung menemukan dimana cerah itu ...
Aku hanya bisa melihat ke belakang semua ekspresiku ...
Ekspresi yang membuatku menjadi gelap gulita ...
Seakan-akan aku terbawa ke dalam lautan hitam dan tenggelam di dasarnya ...
Kini, hanya sesosok cerah bola matamu yang ku tunggu hadir kembali menyinari daratanku ...
Selasa, 19 Juni 2012
Sepercik Harapan
Aku sempat ingin mengibarkan bendera putih setinggi - tingginya . . .
Aku frustasi dengan semua ambisiku . . .
Aku bagaikan orang yang tenggelam di tengah lautan . . .
Yang tak mampu tuk berlabuh di sebuah pulau . . .
Aku tak kuasa lagi menahan derai emosi yang membanjiri bahuku . . .
Rasanya alunan ombak telah menyapu semua angan dan impianku . . .
Tapi, aku tersadar bahwa masih ada sepercik harapan yang akan ku gali dari goresan tulisanmu . . .
Aku frustasi dengan semua ambisiku . . .
Aku bagaikan orang yang tenggelam di tengah lautan . . .
Yang tak mampu tuk berlabuh di sebuah pulau . . .
Aku tak kuasa lagi menahan derai emosi yang membanjiri bahuku . . .
Rasanya alunan ombak telah menyapu semua angan dan impianku . . .
Tapi, aku tersadar bahwa masih ada sepercik harapan yang akan ku gali dari goresan tulisanmu . . .
Kamis, 14 Juni 2012
Tanya siapa
Di pagi buta aku tersenyum dapat membawa seorang permata ...
Berbinar wajahnya memancarkan cahaya penuh pesona ...
Tapi entah kenapa kini aku takut membuat diriku sendiri kecewa ...
Aku coba menerka tapi entah apa ...
Aku coba melangkah entah kemana ...
Aku coba bertanya entah ke siapa ...
Kini, hanya tanda tanya lah yang menjadi rasa kemana permata itu akan bertahta ...
Berbinar wajahnya memancarkan cahaya penuh pesona ...
Tapi entah kenapa kini aku takut membuat diriku sendiri kecewa ...
Aku coba menerka tapi entah apa ...
Aku coba melangkah entah kemana ...
Aku coba bertanya entah ke siapa ...
Kini, hanya tanda tanya lah yang menjadi rasa kemana permata itu akan bertahta ...
Kelabu
Aku terkadang tertawa melihat tingkah lakuku sendiri ...
Aku terkadang juga menangis melihat keadaan yang tak sesuai harapan ...
Kini aku sedang menunggu jalan baru yang ingin ku lewati ...
Tapi entah kenapa aku meragu dengan semua gumamanku ...
Aku merintih menahan api dan air yang ingin keluar dari tubuhku ...
Aku coba bendung angan dan harapan yang kini membanjiri sekujur tubuhku ...
Cemas dan khawatir terkadang muncul dalam benakku ...
Menggelora bagaikan butiran debu yang tak kunjung bersih tersapu ...
Tapi kini aku tersadar bahwa hanya sepenggal tulisanmu yang mampu meluluhkan semua kelabuku ...
Aku terkadang juga menangis melihat keadaan yang tak sesuai harapan ...
Kini aku sedang menunggu jalan baru yang ingin ku lewati ...
Tapi entah kenapa aku meragu dengan semua gumamanku ...
Aku merintih menahan api dan air yang ingin keluar dari tubuhku ...
Aku coba bendung angan dan harapan yang kini membanjiri sekujur tubuhku ...
Cemas dan khawatir terkadang muncul dalam benakku ...
Menggelora bagaikan butiran debu yang tak kunjung bersih tersapu ...
Tapi kini aku tersadar bahwa hanya sepenggal tulisanmu yang mampu meluluhkan semua kelabuku ...
Langganan:
Postingan (Atom)